KEMAJUAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI
ABBASIYAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Islam sejak kelahirannya pada awal abad ke-7 di Mekkah, Islam terus mengalami
perkembangan yang pesat melewati berbagai tantangan yang sangat berat, sampai
akhirnya tersebar ke seluruh dunia.[1] Bernard Lewis
menulis, sampai akhir kekuasaan Khulafa’urrasyidin wilayah Islam terbentang
luas dari Maroko sampai Indonesia, dari Kazakhtan sampai Sinegal.[2]
Seperti apapun kronologi wafatnya Kholifah Ali
bin Abi Thalib, yang jelas hal ini telah menginspirasikan kepada Mu’awiyah bin
AbiSufyan untuk tampil sebagai pemegang tampuk kekuasaan islam, yang akhirnya
berhasil dan mengubah kekuasaan dengan sistem dinasti dan diberi nama khilafah
bani Umayyah. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya dinasti yang dibentuk
mu’awiyah akhirnya dinasti ini runtuh pula.
Indikasi
keruntuhan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah tercium sepeninggal khalifah
Umar ibn Abdul Aziz. Kedamaian dan ketentraman yang
dirasakan masyarakat berganti dengan kekacauan dan kerusuhan. Keadaan ini terus
berlanjut hingga pucuk pimpinan dinasti ini dipegang khalifah Hisyamibn Abdul
Malik dan khalifah-khalifah berikutnya. Di sisi lain kelompok oposisi yang
digalang oleh keturunan Abbasibn Abdul Muthalib yang mendapatkan dukungan dari
golongan mawali(non-Arab) dan Abu Muslim al-Khurasani menjelma menjadi
momok menakutkan, ditambah lagi khalifah-khalifah yang menggantikan Hisyam Ibn
Abdul Malik begitu lemah dan bermoral buruk. Ketika Marwan Ibn Muhammad naik
tahta, Khalifah yang tercatat sebagai khalifah terakhir dari Bani Umayyah ini
karena adanya kekacauan, dia melarikan diri ke Mesir dan akhirnya terbunuh di
sana. Dan pada saat itulah kekhalifahan berpindah kepada Bani Abbasiyah.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan pembahasaan makalah ini adalah
:
1. Awal
munculnya dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah
2. Sistem
pergantian Kholifah
3. Prestasi yang
dicapai
4. Sebab
kemunduran
C. Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah di atas, penulis
mempunyai tujuan agar :
1. Mengetahui
Awal munculnya dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah
2. Mengetahui
Sistem pergantian Kholifah
3. Mengetahui
Prestasi yang dicapai
4. Mengetahui
Sebab kemunduran
BAB II
PEMBAHASAN
A. DINASTI BANI UMAYYAH
a. Asal-usul
Dinasti Bani Umayyah
Nama ” Daulah
Umayah” berasal dari nama ” Umayah ibnu” Abdi Syam ibnu ”Abdi Manaf”, yaitu
salah seorang dari pemimpin Qurays di zama Jahiliyah[3].
Bani Umayah merupakan keturunan Umayah, yang masih memiliki ikatan famili
dengan para pendahulu Nabi. Naiknya bani Umayah ke puncak kekuasaan, dimulai
oleh Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan, salah seorang keturunan bani umayah dan salah
seorang sahabat Nabi, dan ia menjadi bagian penting dalam setiap masa
pemerintahan para khulafa ar-rasyidun. Pada masa Ustman, Mu’awiyah
diduga memiliki hubungan yang kuat dengan Ustman, sehingga terjebak dengan
praktik nepotisme dengan Mu’wiyah. Bahkan kerusakan pemerintahan Ustman akibat
nepotismenya kepada Bani Umayah, sehingga mendapatkan tantangan dari para
pendukung Ali.[4]
Disinilah letak
kepekaan nalar politik yang dimiliki Mu’awiyah mulai bekerja. Mu’awiyah pada
dasarnya termasuk politisi ulung yang mampu mengambil posisi kekuasaan dalam
setiap masa pemerintahan. Pada masa Ustman, betapa Mu’awiyah mampu membangun
koalisi nepotis dengan Ustman, sehingga Bani Umayah tetap menjadi pihak yang
diuntungkan. Sementara pada masa-masa Ali, Mu’awiyah telah mulai melakukan
gerakan politik untuk meraih posisi puncak dalam kekuasaan. Mu’awiyah mampu
memanfaatkan kelemahan dan keluguan kekuasaan Ali.
Pada masa Ali
masih berkuasa, Mu’awiyah telah memiliki kekuatan penuh, sehingga pada saat Ali
terbunuh, Mu’awiyah langsung mengambil alih kekuasaan dengan sangat mudah dan
terkordinasi dengan baik. Salah satu kepekaan nalar politik Mu’awiyah ialah
mampu belajar pada pengalaman yang terjadi pada tiga khalifah sebelumnya, yang
berakhir dengan pembunuhan. Pilihan memindahkan kekuasaan ke luar Jazirah Arab,
menunjukkan sikap dan kecerdasan politik Mu’awiyah dalam menghindari pergolakan
antar kubu yang sangat tragis di kalangan umat Islam di jazirah Arab bahkan
sebagai upaya untuk menghindari tragedi pembunuhan yang dilakukan terhadap tiga
khalifah sebelumnya. Akhirnya, Mu’awiyah dan dinastinya mengendalikan kekuasaannya
dari luar jazirah Arab, mencoba bersebarangan dengan para
pendahulu-pendahulunya yang berkonsentrasi di wilayah jazirah Arab. Menurut
H.A.R. Gibb : Mulai tahun 660 M. ibu kota kerajaan Arab dipindahkan ke
Damaskus, tempat kedudukan baru khilafah Bani Umayah, sedangkan Madinah tetap
merupakan pusat pelajaran agama Islam, pemerintah dan kehidupan umum kerajaan
dipengaruhi oleh dapat istiadat Yunani Romawi Timur.[5]
b. Sistem
Pergantian Kholifah
Pada masa-masa
Awal Mu’awiyah menjadi penguasa kekuasaan masih berjalan secara demokratis,
tetapi setelah berjalan dalam beberapa waktu, Mu’awiyah mengubah model
pemerintahnya dengan model pemerintahan monarchiheredetis (kerajaan
turun temurun).[6]yaitu sebagai berikut:
|
NO
|
NAMA
|
MASA
BERKUASA
|
|
1
|
Mu’awiyah ibnu
Abi Sufyan
|
661-681 M
|
|
2
|
YazidibnMu’awiyah
|
681-683 M
|
|
3
|
Mua’wiyahibnuYazid
|
683-685 M
|
|
4
|
Marwan ibnuHakam
|
684-685M.
|
|
5
|
Abdul Malik ibn Marwan
|
685-705 M
|
|
6
|
Al-Walidibnu Abdul Malik
|
705-715 M
|
|
7
|
Sulaiman ibnu Abdul Malik
|
715-717 M
|
|
8
|
Umar ibnu Abdul
Aziz
|
717-720 M
|
|
9
|
Yazid ibnu
Abdul Malik
|
720-824 M
|
|
10
|
Hisyam ibnu
Abdul Malik
|
724-743 M
|
|
11
|
WalidibnYazid
|
734-744 M
|
|
12
|
YazidibnWalid
[ Yazid III]
|
744 M
|
|
13
|
Ibrahim ibn
Malik
|
744 M
|
|
14
|
Marwan ibn
Muhammad
|
745-750 M
|
c.Keberhasilan Yang Dicapai
Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu
material dan immaterial
a). Bidang Material :
1. Muawiyah
mendirikan Dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda dengan
peralatannya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan
bersenjata.
2. Mu’awiyah merupakan khalifah yang
mula-mula menyuruh agar dibuatkan ”anjung” dalam masjid tempat is sembahyang.
Ia sangat khwatir akan keselamatan dirinya, karena khalifah Umar dan Ali,
terbunuh ketika sedang melaksanakan shalat.
3. Lambang
kerajaan sebelumnya Al-Khulafaur Rasyidin, tidak pernah membuat lambang Negara
baru pada masa Umayyah, menetapkan bendera merah sebagai lambang negaranya.
Lambang itu menjadi ciri khas kerajaanUmayyah.
4. Mu’awiyah sudah merancang pola pengiriman
surat (post), kemudian dimatangkan lagi pada masa Malik bin Marwan. Proyek
al-Barid (pos) ini, semakin ditata dengan baik, sehingga menjadi alat
pengiriman yang baik pada waktu itu.
5. Arsitektur
semacam seni yang permanent pada tahun 691H, Khalifah AbdAl-Malik membangun
sebuah kubah yang megah dengan arsitektur barat yang dikenal dengan “The Dame
Of The Rock” (Gubah As-Sakharah).
6. Pembuatan
mata uang dijaman khalifah Abd Al Malik yang kemudian diedarkan keseluruh
penjuru negeri islam.
7. Pembuatan
panti Asuhan untuk anak-anak yatim, panti jompo, juga tempat-tempat untuk
orang-orang yang infalid, segala fasilitas disediakan oleh Umayyah.
8. Pengembangan
angkatan laut muawiyah yang terkenal sejak masa Uthman sebagai Amir Al-Bahri,
tentu akan mengembangkan idenya dimasa dia berkuasa, sehingga kapal perang
waktu itu berjumlah 1700 buah.
9. Khalifah
AbdAl-Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi
pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi
pemerintahan Islam yang tadinya berbahasa Yunani dan Pahlawi sehingga sampai
berdampak pada orang-orang non Arab menjadi
pandai berbahasa Arab dan untuk menyempurnakan pengetahuan tata bahasa
Arab orang-orang non Arab, disusun buku tata bahasa Arab oleh Sibawaih dalam
al-Kitab.
10. Merubah mata uang
yang dipakai di daerah-daerah yang
dikuasai Islam. Sebelumnya mata uang Bizantium
dan Persia seperti dinar dan dirham. Penggantinya
uang dirham terbuat dari mas dan dirham dari perak dengan memakai kata-kata dan
tulisan Arab.
11. Perluasaan wilayah kekuasaan dari Afrika menuju
wilayah Barat daya, benua Eropa, bahkan perluasaan ini juga sampai ke Andalusia
(Spanyol) di bawah kepemimpinan panglima Thariq bin Ziad, yang berhasil
menaklukkan Kordova, Granada, dan Toledo.
12. Dibangun mesjid-mesjid dan istana.
Katedral St. Jhon di Damaskus dirubah menjadi mesjid, sedang Katedral yang ada
di Hims dipakai sebagai mesjid dan gereja. Di al-Quds (Jerussalem)
Abdul Malik membangun mesjid al-Aqsha. Monumen terbaik yang ditinggalkan
zaman ini adalah Qubahal-Sakhr di al-Quds. Di mesjid al-Aqsha yang
menurut riwayatnya tempat Nabi Ibrahim hendak menyembelih
Ismail dan Nabi Muhammad mulai dengan mi’raj ke langit, mesjid Cordova
di Spanyol dibangun, mesjid Mekah dan Madinah
diperbaiki dan diperbesar oleh Abdul Malik dan Walid.
13. Bahkan pada masa, Sulaiman ibn Malik, telah
dibangun pembangunan mega raksasa yang terkenal dengan Jami’ul Umawi.
b). Bidang Immaterial
1. Mendirikan
pusat kegiatan ilmiah di Kufah dan Bashrah yang akhirnya memunculkan nama- nama
besar seperti Hasan al-Basri, Ibn Shihabal-Zuhri dan Washil bin Atha. Bidang
yang menjadi perhatian adalah tafsir, hadits, fikih, dan kalam.
2.
Penyair-penyair Arab baru bermunculan setelah perhatian mereka terhadap syair
Arab Jahiliyah dibangkitkan. Mereka itu adalah Umar Ibn AbiRabiah (w. 719 m.),
Jamil al-Udhri (w. 701 M.), Qays Ibn al-Mulawwah (w. 699 M.) yang lebih
dikenal dengan nama Majnun Laila, al-Farazdaq (w 732M.), Jarir (w. 792 M) dan
al-Akhtal (w. 710 M.).
3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Sastra-Seni
Waktu dinasti ini
telah mulai dirintis jalan ilmu naqli ; berupa filsafat dan eksakta. Dan
ilmu pengetahun berkembang dalam tiga bidang, yaitu bidang diniyah, tarikh, dan
filsafat. Kota-kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan selama pemerintahan
dinasti Umayah, antara lain kota Kairawan, Kordoba, Granda dan lain sebagainya.
Sehingga secara perlahan ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua macam, yaitu : pertama,
Al-Adaabul Hadits (ilmu-ilmu baru), yang meliputi : Al-ulumul Islamiyah (ilmu
al-Qur’an, Hadist, Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, At-Tarikh dan al-Jughrafi),
Al-Ulumul Dkhiliyah (ilmu yang diperlukan untuk kemajuan Islam), yang meliputi
: ilmu thib, filsafat, ilmu pasti, dan ilmu eksakta lainnya yang disalin dari
Persia dan Romawi. Kedua : Al-Adaabul Qadamah (ilmu lama), yaitu ilmu
yang telah ada pasa zaman Jahiliyah dan ilmu di zaman khalifah yang empat,
seperti ilmu lughah, syair, khitabah dan amtsal.
Pada masa ini
pula sudah mulai dirancang tentang undang-undang yang bersumber dari al-Qur’an,
sehingga menuntut masyarakat mempelajari tentang tafsir al-Qur’an. Salah
seorang ahli tafsir pertama dan termashur pada masa tersebut adalah Ibnu Abbas.
Pada waktu itu beliau telah menafsirkan al-Qur’an dengan riwayat dan isnad,
kemudian kesulitan-kesulitan dalam mengartikan al-Qur’an dicari dalam
al-hadist, yang pada gilirannya melahirkan ilmu hadist. Dan akhirnya
kitab tentang ilmu hadist sudah mulai dikarang oleh para ulama muslim. Beberapa
ulama hadist yang terkenal pada masa itu, antara lain : Abu Bakar Muhammad bin
Muslim bin Ubaidilah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhri, Ibnu Abi Malikah (Abdullah
bin Abi Malikah at-Tayammami al-Makky, Al-Auza’i Abdurrahman bin Amr, Hasan
Basri as-Sya’bi. Dalambidanghadistini,
Umar bin Abd Aziz
secarakhususmemerintahkanIbnSyihabaz-Zuhriuntukmengumpulkanhadist. Oeh karena itu, Ibnu Syihab telah dianggap
sanat berjasa dalam menyebarkan hadist hingga menembus berbagai zaman. Sejak
saat itulah perkembangan kitab-kitab hadist mulai dilakukan.[7]
4. Gerakan Penerjemahan dan Arabisasi
Gerakan
penerjemahan ke dalam bahasa Arab (Arabisasi buku), juga dilakukan, terutama
pada masa khalifah Marwan. Pada saat itu, ia memerintahkan penerjemahan sebuah
buku kedokteran karya Aaron, seorang dokter dari iskandariyah, ke dalam bahasa
Siriani, kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Arab. Demikian pula,
Khalifah memerintahkan menerjemahkan buku dongeng dalam bahasa sansakerta yang
dikenal dengan Kalilah wa Dimnah, karya Bidpai. Buku ini diterjemahkan
oleh Abdullah ibnu Al-Muqaffa. Ia juga telah banyak menerjemahkan banyak buku
lain, seperti filsafat dan logika, termasuk karya Aristoteles :Categoris,
Hermeneutica, Analityca Posterior serta karya Porphyrius :Isagoge.[8]
d. Kemunduran Dinasti Umayyah
Selama berkuasa kurang lebih 90 tahun lamanya,
penguasa Bani Umayah, sejak Umayah berkuasa harus diakui telah banyak
memberikan sesuatu yang berarti bagi Islam. Tetapi, kekuasaan yang dibangun
dengan cara-cara yang keras dan kasar seperti yang dilakukan oleh Mu’awiyah
seperti pasa saat ia merebut kekkuasaan, dan ditambah lagi dengan pola suksesi
yang bersifat keluargaan telah memunculkan perlawanan yang keras dari
lawan-lawan politik Bani Umaya. Sejak sepeninggal HisyamibnuAbd Malik,
khalifah-khalifah Bani Umayah terus mengalami melemah, bukan hanya moral tetap
juga lemah dalam kekuataan politik. Kelemahn ini tentu saja terus dimanfaatkan dengan baik oleh musuh-musuh
Bani Umayah untuk dihancurkan, dan segera diganti.
Beberapa faktor
yang menjadi akar melemah dan hancurnya Bani Umayah, antara lain :
1. System suksesi khalifah dengan cara
dinatian bukan tradisi Arab dan lebih mengandalkan aspek senioritas.
Pengaturannya tidak jelas, sehingga menimbulkan menimbulkan persaingan yang
keras di kalangan anggota keluarga.
2. Latar belakang terbentuknya Bani Umayah
tidak terlepas dari konflik politik yang terjadi di masa Ali. Ktbu Ali (Syi’ah)
dan kubu khawarij yang masih tersisa, terus menjadi oposisi dan melakukan
perlawanan terhadap Bani Umayah, baik dengan terang-terangan maupun dengan cara
sembunyi-sembunyi. Penumpasan terhadap kelompok-kelompok ini, banyak menyedot
kekuatan pemerintah Bani Umayah.
3. Pada masa Bani Umayah pertentangan etnis
antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) terus
menruncing. Konflik ini membuat penguasa Bani Umayah merasa kesulitan dalam
menggalang persatuan dan kesatuan.
4. Faktor lemahnya Bani Umayah juga akibat
sikap hidup mewah orang-orang di lingkungan istana, sehingga anak-anak khalifah
tidak sanggup memikul beban berat kekuasaan. Kemudian, banyak para agamawan
yang kecewa dengan penguasa Bani Umayah karena penguasa ini sudah tidak
memperhatikan pengembangan agama.
5. Munculnya kekuatan baru yang dipelopori
oleh keturunan al-Abbas ibn Abd Thalib yang mendapatkan dukungan dari Bani
Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali.[9]
Akhir kehancuran
Dinasti Umayah, dimulai oleh pembunuhan terhadap khalifah Marwan yang dilakukan
oleh Abul Abbas as-Shaffah, setelah itu ia menjadi khalifah dalam kekuasaan
umata Islam. Kemudian kelompok Abul Abbas, beralih menghancurkan Yazid bin Umar
bin Hubairah, yang merupakan benteng terakhir kekuasaan dinasti Umayah.[10] Jadi, hancurnya dua kekuayaan Umayah ini, menjadi
akhir dari kiprah bani Umayah dalam sejarah kekuasan Islam.
B. DINASTI ABBASIYAH
a. Asal-usul
Dinasti Bani Abbasiyah
Khilafah Bani Abbasyiyah adalah penerus
tongkat estafet perjuangan Islam dari khilafah bani Umayyah yang berhasil
mereka gulingkan pada tahun 750 M. Akar munculnya khilafah ini dimulai dari
tindakan propaganda Abbasiyah yang dimotori oleh Ibrahim (orang Bani
Abbas/saudara Saffah) yang mendapat dukungan dari pemuka khurasan bernama Abu
Muslim. Ditambah lagi kekuatan oposisi yang semakin solid serta pemegang kursi
pemerintahan bani Umayyah semakin melemah. Dari tindakan propaganda ini
akhirnya memunculkan perselisihan seru antara bani Umayyah dan bani
Abbasiyah yang diakhiri dengan jatuhnya kekuasaan Bani Umayyah.
Dinasti Abbasiyah muncul juga tidak bisa
dilepaskan dari bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani
Umayyah di dalam sosial, politik dan administrasi. Orang-orang Persia percaya
kepada hak agung raja-raja (yang berasal dari Tuhan). Kekhalifahan menurut
mereka merupakan kekuasaan dari Allah. Hal ini nampak jelas dalam ucapan
al-Manshur yang menyatakan:“InnamaaAnaaSulthaanullahfiiArdlihii”
(sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya). Dengan demikian, konsep
khilafah dalam pandangannya merupakan mandat langsung dari Allah bukan dari
rakyat. Sistem kekhalifahan semacam ini sangat berbeda dengan sistem
kekhalifahan pada masa KhulafaurRasyidundimanakekhalifahan mereka
berasal dari rakyat.
Dinamakan khilafahAbbasiyah karena para
pendiri dan penguasa dinasti ini adalah dari keturunan al-Abbas paman Nabi
Muhammad S.A.W.
b. Sistem
Pergantian Kholifah
Sistem pemerintahan yang diterapkan bani
Abbasiyah masih sama dengan pendahulunya, bani Umayyah dengan sistem kekuasaan
absolutisme. Mereka mengangkat dan mengumumkan seorang atau dua orang putra
mahkota atau saudaranya sendiri untuk terus mempertahankan kepemerintahan.
Kebijakan menerapakan sistem seperti ini tentu saja menimbulkan kecemburuan dan
kebencian diantara sesama keluarga. Sebagai contoh, tatkala al-Manshur naik
tahta, dia mengumumkan Mahdi sebagai putra mahkota pertama dan menunjuk Isa ibn
Musa, kemenakannya sebagai putra mahkota kedua. Saat itu juga al-Manshur
mengasingkan Isa sama sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah pertama
al-Shaffah.
Seluruh anggota keluarga Abbas dan pemimpin
umat Islam mengangkat Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn
Abdullah ibnal-Abbas sebagai khalifah mereka yang pertama walaupun masih ada
Abu Ja’far (al-Manshur) yang nantinya akan menjadi khalifah yang kedua.
Kekhalifahan bani Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang
dan pada periode pertama (750 – 848 M) tercatat kurang lebih 10 khalifah yang
memimpin dengan silsilah keturunan sebagai berikut :
|
NO
|
NAMA
|
MASA
BERKUASA
|
|
1.
|
Saffahibn Muhammad
|
(132 H/750 M)
|
|
2.
|
Abu Ja’faral-Manshuribn Muhammad
|
(136 H/754 M)
|
|
3.
|
Mahdi ibnal-Manshur
|
(158 H/775 M)
|
|
4.
|
Hadi ibn Mahdi
|
(169 H/785M)
|
|
5.
|
Harun al-Rasyidibn Mahdi
|
(170 H/786M)
|
|
6.
|
Amin ibn Harun
|
(193 H/804 M)
|
|
7.
|
Ma’mun ibn Harun
|
(198 H/813 M)
|
|
8.
|
Mu’tashimibn Harun
|
(218 H/833 M)
|
|
9.
|
WatsiqibnMu’tashim
|
(227 H/842 M)
|
|
10.
|
MutawakkilibnMu’tashim
|
(232 H/848 M)
|
Dalam perkembangannya, di bawah khalifah
Saffah, ibu kota negara berada di kota Anbar dekat kufah dengan istana yang
diberi nama al-Hasyimiyah. Namun demi menjaga stabilitas negara yang baru
berdiri itu akhirnya pada tahun 762 M al-Manshur memindahkan ibu kota negara ke
Baghdad dengan istana al-Hasyimiyah II. Dengan demikian, pusat pemerintahan
daulah Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.
Diantara langkah-langkah yang diambil
al-Manshur dalam menertibkan pemerintahannya antara lain :
1. Mengangkat
pejabat di lembaga ekskutif dan yudikatif.
2. Mengangkat wazir
(menteri) sebagai koordinator departemen. Dan wazir pertama yang
diangkatnya adalah Khalid ibnBarmak berasal dari kota Balkh Persia
3. Mengangkat
sekretaris negara dan kepolisian negara dan membenahi angkatan bersenjata
4. Memaksimalkan
peranan kantor pos. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku
gubernur setempat kepada khalifah.
5. Berdamai
dengan kaisar Constantine V, dan selama gencatan senjata, Bizantium membayar
upeti tahunan.
Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah
Abbasiyah diletakkan oleh Shaffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari
dinasti ini berada pada beberapa khalifah sesudahnya. Popularitas daulah
Abbasiyah mencapai klimaks kesuksesan adalah pada masa pemerintahan khalifah
Harun al-Rasyid dan puteranyaal-Ma’mun.
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan
yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan
budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik yang ada, para
sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode
dengan karakteristik yang berbeda-beda pula :
1. Periode
pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2. Periode kedua
(232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama
3. Periode
ketiga, (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam
pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia
kedua.
4. Periode
keempat, (447 H/1055 M – 590 H/1194 M) masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk
dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa
pengaruh Turki kedua.
5. Periode kelima,
(590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain,
tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
c.Keberhasilan Yang Dicapai
Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu
material dan immaterial
a). Bidang Material :
Pada zaman al-Mahdi, sebenarnya perekonomian
sudah mulai menggeliat dengan peningkatan di sektor pertanian, melaluai irigasi
dan peningkatan hasil pertambangan. Diantara prestasi-prestasi yang berhasil
diraih al-Mahdi antara lain:
1. Dia membangun
gedung-gedung sepanjang jalan menuju Makkah.
2. Masjid Agung
di Madinah diperbesar tetapi menghapus nama khalifah bani Umayyah, Walid dari
dinding masjid itu dan mengganti dengan namanya.
3. Membangun
tempat pelayanan pos antara Makkah dan Madinah kemudian Yaman yang berfungsi
sebagai tempat pembayaran ongkos perjalanan tiap mil.
4. Membuat
benteng di beberapa kota khususnya Rusafa di bagian Baghdad Timur
Popularitas daulah bani Abbasiyah mencapai
puncak peradaban dan kemakmurannya di zaman Harun al-Rasyid (786-809 M) dan
puteranyaal-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak, dimanfaatkan Harun untuk
keperluan sosial. Istana-istana besar, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter
dan farmasi didirikan. Bahkan menurut sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa
sebenarnya Harun ingin menggabungkan laut tengah dengan laut merah. Namun Yahya
ibn Khalid (dari keluarga barmak) tidak menyetujui gagsan itu. Pada masa
al-Ma’mun menjadi khalifah, ia banyak mendirikan sekolah-sekolah. Salah satu
karya terbesarnya adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan
yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang sangat besar.
Baghdad, kota kuno yang didirikan oleh
orang-orang Persia, merupakan tempat perdagangan yang kerap kali dikunjungi
oleh pedagang dari India dan Cina. Para Insinyur, tukang batu, dan para pekerja
tangan didatangkan dari Syiria, Bashra, Kufa untuk membantu didalam memperindah
kota. Bahkan di daerah pinggir kota ini sudah terbagi menjadi empat bagian
pemukiman yang masing-masing mempunyai seorang pemimpin yang dipercaya untuk
mendirikan pasar di pemukimannya. Demikianlah di zaman Abbasiyah pertama.
Baghdad menjadi kota terpenting di dunia sebagai sentral perdagangan, ilmu
pengetahuan dan kesenian. Masjid-masjid dan bangunan-bangunan lain
semakin bertambah banyak dan menjadi hal menarik dalam kesenian muslim.
a). Bidang Imaterial :
Kemajuan yang dicapai dinasti Abbasiyah
mencakup ilmu agama, filsafat dan sain (Harun Nasution, 2001:65-69). Ilmu
agama yang dikembangkan pada masa ini mencakup:
a. Ilmu Hadits
Tokohnya: Al-Bukhori dengan kitabnya
al-Jam’ial-Shahih dan Tarikh al-Kabir, Muslim dengan kitabnya Shahih Muslim,
Ibnu Majjah, Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan al-Nasa’i.
b. Ilmu Tafsir
Tokohnya: Ibnu JarirAthThabari dengan karyanya
Jamial-Bayanfi Tafsir al- Qur’an sebagai pegangan pokok bagi mufassir hingga
sekarang, Abu Muslim Muhammad Ibn Bahar al-Ashfahani dengan tafsirnya
Jami’utTa’wil, Ar-Razy dengan tafsirnya Al-Muqthathaf.
c. Ilmu Fiqih
Tokohnya: Abu Hanifah dengan kitabnya Musnadal-Imamal-A’dhom
atau Fiqhal-Akbar, Malik dengan kitabnya al-Muwatha’, Syafi’i dengan kitabnya
al-Um dan al-Fiqhal-Akbarfial-Tauhid, dan Ibn Hambal dengan kitabnya al-Musnad.
d. Ilmu Tasawuf atau Mistisisme Islam
Tokohnya: Abu Bakr Muhammad al-Kalabadi dengan
karyanya al-Ta’arrufli Mazhab Ahlal-Tasawuf, Abu Nasras-Sarrajal-Tusi dengan
karyanya al-Luma’, Abu Hamid al-Ghazali dengan karyanya Ihya ‘Ulumal-Din, dan
Abu QasimAbdal-Karimal- Qusyairi dengan karyanya Maqamat. Tokoh lainnya,
Zunnunal-Misri, Abu Yazidal-Bustami, Husain Ibn Mansur al-Hallaj, dsb.
e. Ilmu Kalam atau Theologi
Tokohnya seperti Washil bin Atha’, Ibn
al-Huzail, al-Allaf, dll dari golongan Mu’tazilah, Abu al-Hasanal-Asy’ari dan
al-Maturidi dari ahli sunnah.
f. Ilmu Tarikh atau Sejarah
Tokohnya: Ibn Hisyam (abad VIII), Ibn Sa’d
(abad IX), dll.
g. Ilmu Sastra
Tokohnya: Abu al-Farrajal-Isfahani dengan
karyanya Kitab al-Aghani, al-Jasyiari dengan karyanya AlfuLailahwaLailah di
pertengahan abad X. h. Ilmu agama lainnya seperti ilmu al-Qori’ah, ilmu
Bahasa, dan Tata Bahasa. Di antara ilmu yang menarik pada masa dinasti
Abbasiyah adalah Filsafat. Ilmu ini berasal dari Yunani kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, bahkan juga buku-buku yang berasal
dari Persia maupun Spanyol. Dari gerakan ini muncul para filosof Islam,
seperti:
a. Al-Kindi (185-260 H/801-873 M)
Al-Kindi lahir di Kufah, karyanya sekitar 270
buah yang dikelompokkan oleh ibn Nadim dan al-Qifti menjadi 17, yaitu:
filsafat, logika, ilmu hitung, globular, musik, astronomi, geometri, sperikal,
medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik,240 meteorology, dimensi,
benda-benda pertama, dan spesies tertentu logam dan kimia.
b. Al-Razi (251-313 H/865-925 M)
Nama latinnya adalah Rhazes, lahir di Rayy
dekat Teheran. Buku-buku filsafatnya antara lain: Al-Tibbal-Ruhani,
Al-shiratal-Falsafiyyah, Amarat Iqbal al-Daulah, Kitab al-Ladzdzah, Kitab
al-Ilmal-Ilahi, dll.
c. Al-Farabi (258-339 H/870-950 M)
Di Barat dikenal dengan nama Alpharbiu, lahir
di Wasij (suatu desa di Farab/ Transoxania). Selain seorang filosof, ia juga
ahli dalam bidang logika, matematika, dan pengobatan. Dalam bidang fisika, ia
menulis kitab al-Musiqa. Di antara karyanya adalah: al-Tanbih ‘ala
Sabilal-Sa’adat, Ihshaal-Ulum, al-Jam’ baynRa’yal-Hakimayn, Fushushal-Hikam,
dll.
d. Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M)
Nama latin Ibn Sina adalah Avicenna, lahir di
Afsyana (dekat Bukhara). Selain ahli filsafat dan kedokteran,
beliau juga memiliki karya dalam bidang logika,
matematika, astronomi, fisika, mineralogy, ekonomi, dan politik. Karyanya
antara lain: Kitab al-Syifa, Kitab al-Nadjat, Al-Isyaratwat-Tanbihat,
Al-Hikmatal-Masyriqiyyah, dll.
e. Al-Ghazali (455-507H/1059-1111 M)
Beliau bergelar hujjatul Islam, lahir di
Ghazaleh dekat Tus di Khurasan. Karyanya antara lain: Al-Munqidz min ad-Dlalal,
Tahafutal-Falasifah, IhyaUlumuddin, Qawaidal-‘Aqaid, Misykatal-Anwar, dll.
f. Ibn Rusyd (520-595 H/1126-1198 M)
Di Barat namanya Averroes, lahir di Cordova.
Bukunya yang terpenting ada empat: Bidayatul Mujtahid, FaslulMaqalfimabainaal-HikmatiwasSyari’at
min al- Ittisal, Manahijal-AdillahfiAqaidiAhlal-Millah, dan Tahafutat-Tahafut.
g. Ibn Bajjah (w. 533 H/1138 M)
Beliau lahir di Saragossa dan karyanya berupa
risalah antara lain: Al-Ittisal, al- Wada’, Tadbiral-Mutawahhid, dll.
h. Ibn Tufail (506-581 H/1110-1185 M)
Beliau lahir di Granada. Karangannya tentang
filsafat, fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagainya tidak sampai kepada kita
kecuali satu yaitu risalah Hay bin Yaqzhan.
Kemajuan sains pada masa dinasti Abbasiyah didukung
oleh Science Policy, yakni antara lain dengan didirikannya akademi, sekolah dan
observatorium (lembaga ilmiah yang melakukan penelitian
dan pengajarannya sekaligus) di samping perpustakaan.
Dengan kebijakan tersebut menimbulkan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan, seperti:
a. Kedokteran
Tokohnya: Al-Razi dengan karyanya
al-Hawi, Ibn Sina dengan karyanya al-Qanunfial-Tibb (Canon of Medicine) dan
Materia Medica yang memuat 760 obat-obatan.
b. Ilmu Kimia
Tokohnya: Jabir Ibn Hayyan yang berpendapat
bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau
perak dengan menggunakan obat rahasia. Ia mengetahui cara membuat asam
belerang, asam sendawa, dan aquaregia yang dapat menghancurkan emas dan
perak.Ia juga memperbaiki teori aristoteles mengenai campuran logam.241
c. Astronomi
Tokohnya: Al-Biruni dengan kitabnya al-Hind
dan al-Qanunal-Mas’udifial-Hai’awaal-Nujum, NasiruddinTusi menyusun tabel
astronomi Ilkanian, Ibn Yunus membuat perbaikan tabel astronomi dan
HakemiteTables, Moh. TargaiUlughBegh (cucu Timur Lenk) menyusun kitab
al-Zijal-Sulthanial-Jadid yang berisi 1018 bintang.
d. Matematika
Tokohnya yang populer adalah al-Khawarizmi
yang menemukan angka 0 (aljabar) pada abad IX. Angka 1-9 berasal dari
angka-angka Hindu di India.
e. Optik
Tokohnya adalah Ali al-HasanibnulHaitsam yang
dikenal Alhazen, menulis sebuah buku besar tentang optic “OpticalThesaurus”,
mengoreksi teori Euclid dan Ptolemy. Ia juga mengembangkan teori pemfokusan,
pembesaran, dan inversi dari bayangan.
f. Fisika
Tokohnya Abdul Rahman al-Khazini, menulis
kitab Mizanul Hikmah (The Scale of Wisdom) tahun 1121 M.
g. Geografi
Tokohnya: Zamakhsyari (w.1144) seorang Persia,
menulis kitabulAmkinawalJibalwalMiyah (The Book of Places, MountainsandWaters),
Yaqut menulis Mu’jamulBuldan (The PersianBook of Places) tahun 1228, Al-Qazwini
menulis Aja’ibal-Buldan (The Wonders of Lands), dll.
h. Sains lainnya
Seperti Botani (Abd Latif), Antidote/penawar
racun (Ibn Sarabi), Trigonometri (JabiribnAflah), dan Musik (NasiruddinTusi,
Qutubuddin, Asy- Syirazi, dan Safiuddin).
d. Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Setelah kekuasaan bani Seljuk berakhir,
khalifah bani Abbasiyah berkuasa kembali dan titak lagi berada di bawah
pengaruh satu dinasti tertentu. Namun demikian, banyak dinasti-dinasti kecil
Islam yang independent. Wilayah kekuasaan bani Abbasiyah menyempit di Baghdad
dan sekitarnya yang menunjukkan pada kelemahan politik mereka. Keadaan ini
dibaca oleh tentara Mongol dan Tartar untuk menyerang Baghdad yang akhirnaya
bisa mereka kuasai.
Masa kemunduran bani Abbasiyah sebenarnya
sudah dimulai sejak periode kedua. Namun karena khalifah yang berkuasa sangat
kuat, benih kehancuran dinasti ini masih belum sempat berkembang. Dalam sejarah
kekuasaan bani Abbasiyah terlihat bahwa apabila khalifah yang berkuasa kuat,
para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil yang hanya
mendapatkan bayaran, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur
roda pemerintahan sepenuhnya. Di samping kelemahan khalifah yang menjadi
penyebab kemunduran, ada beberapa faktor lain yang menjadi sebab kemunduran
khilafah bani Abbasiyah, antara lain:
1. Persaingan
Antar Bangsa
Dalam berdirinya khilafah bani Abbasiyah,
mereka lebih memilih bersekutu dengan bangsa Persia dari pada bangsa Arab.
Persekutuan ini disebabkan karena mereka sama-sama tertindas selama bani
Umayyah berkuasa. Di sisi lain, bangsa Arab beranggapan bahwa mereka lebih
istimewa dibandingkan dengan bangsa non Arab di dunia Islam. Pada waktu itu
tidak ada kesadaran untuk merajut elemen-elemen yang beraneka ragam tersebut
dengan kuat. Akibatnya yang muncul adalah fanatisme kearaban dan fanatisme
antar bangsa. Setelah al-Mutawakkil naik tahta, dominasi Turki dalam
kepemerintahan tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan khilafah bani Abbasiyah
sebenarnya sudah berakhir berganti ke tangan orang-orang Turki, bani Buwaih,
dan bani Seljuk.
2.
Kemerosotan Ekonomi
Khilafah bani Abbasiyah juga mengalami
kemunduran dalam bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran dalam bidang
politik. Walaupu periode pertama terbilang sukses perekonomiannya, namun
memasuki periode kedua mengalami kemerosotan. Pendapatan negara menurun,
sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Hal ini disebabkan
menyempitkan wilayah kekuasaan mereka dan banyaknya kerusuhan yang mengganggu
perekonomian bangsa.
Kondisi politik yang tidak stabil
menyebabkan perekonomian semakin memburuk. Sebaliknya, perekonomian yang buruk
semakin memperlemah kondisi polotik dinasti Abbasiayah, kedua faktor ini saling
berkaitan dan tak terpisahkan.
3. Konflik
Keagamaan
Pada periode pertama sudah bermunculan
gerakan-gerakan keagamaan yang membuat beberapa khalifah waktu itu merasa berang
dan berusaha untuk memberantasnya. Al-Mahdi bahkan mendirikan jawatan khusus
untuk mengawasi kegiatan orang-orang zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan
memberantas bid’ah. Akan tetapi semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka.
Konflik di antara merekapun bermunculan. Mulai dari polemik tentang ajaran
sampai pada konflik bersenjata yang menumpahkan darah diantara kedua belah
pihak.
Konflik keagamaan tidak terbatas antar muslim
dan zindiq atau Sunni dengan Syi’ah, melainkan juga antar aliran dalam Islam.
Mu’tazilah yang cenderung rasional, dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh
golongan salaf. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh
al-Ma’mun saat menjabat sebagai khalifah dengan menjadikan Mu’tazilah sebagai
madzhab resmi dinasti Abbasiyah. Pada masa al-Mutawakkil, giliran golongan
salaf yang menjadi madzhab resmi, sementara Mu’tazilah dibatalkan.
4. Ancaman
dari Luar
Setidaknya ada dua Faktor eksternal yang
mempengaruhi kemunduran dinasti Abbasiyah. Pertama, perang salib yang
berlangsung dalam beberapa gelombang yang menelan banyak korban. Kedua,
serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Begitu juga orang-orang
Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II
mengeluarkan seruan kepada umat Kristen Eropa supaya melakukan perang suci yang
lebih dikenal dengan sebutan perang Salib.
BAB III
KESIMPULAN PENUTUP
a. Kesimpulan
- Bani Umayyah
Bani Umayah
merupakan salah satu dinasti Islam yang cukup masyhur seperti yang
penguasa-penguasa muslim yang lain. Bahkan pada masa ini, perubahan demi
perubahan dilakukan, setidaknya keberanian Bani Umayah untuk keluar dari
tradisi Arab dalam masalah pergantian kepemimpinan serta pemindahan pusat
kekuasaan dari Jazirah Arab ke Damaskus (luar jazirah Arab) menjadi bukti
sederhana tentang dinamika yang terjadi pada masa Bani Umayah berkuasa.
Tulisan di atas
walaupun sangat singkat telah memberikan gambaran tentang pergulatan kekuasan
Bani Umayah dengan segala dinamikan yang terjadi selama berkuasa kurang lebih
90 tahun lamanya, di satu sisi telah menorehkan banyak catatan kemajuan bagi
Islam, tetapi pada sisi yang lain tidak juah beda dengan penguasa-penguasa
sebelumnya, yaitu ketidakmampuan dalam meminimalisir konflik politik, yang
acapkali melahirkan berbagai tragedi pertempuran di kalangan umat Islam.
Namun demikian,
Bani Umayah tetaplah bagian penting dan menarik dalam sejarah umat Islam yang
harus terus dijadikan sebagai pengalaman sangat berharga, karena tidak semua
yang dilakukan Bani Umayah itu jelek, tetapi juga memiliki sisi penting yang
harus ditiru oleh umat Islam. Kekuasaan Bani Umayah yang hampir seabad lamanya
dalam memimpin umat Islam, tetaplah sebuah prestasi yang harus diapreasi secara
kritis.
- Bani Abbasiyah
Masa kekuasaan bani Abbasiyah yang terbagi dalam
lima periode terbilang cukup lama. Dengan menerapkan sistem kekuasaan
absolutisme, mereka telah menguasai dunia Islam lebih dari 500 tahun. Pada saat
itu pula masa kejayaan Islam direngkuh. Kemajuan yang dicapai dalam bidang
fisik, ilmu pengetahuan, poltik, ekonomi, dan banyaknya ilmuwan Islam saat itu
adalah bukti konkrit bahwa Islam mencapai puncak kejayaannya. Berbagai
peristiwa penting, seperti perluasan wilayah Islam ke berbagai daerah, juga
beberapa peperangan termasuk perang dengan Byzantium, Mongol, Tartar,
penumpasan gerakan Zindiq, dan perang Salib ikut mewarnai perjalanan
kepemerintahan dinasti Abbasiyah.
Bila kita cermati, dalam sejarah kekuasaan
bani Abbasiyah terlihat bahwa apabila khalifah yang berkuasa kuat, maka
kepemerintahan akan berjalan baik pula. Kekuasaan sepenuhnya ada di tangan
khalifah. Para menteri cenderung hanya berperan sebagai kepala pegawai sipil.
Tetapi jika yang menjabat sebagai khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur
roda pemerintahan sepenuhnya. Bahkan dalam pengangkatan atau pemberhentian
khalifah mereka sendirilah yang menentukan.
Sistem kekuasaan absolutisme yang mereka
jalankan, ditengarai menjadi salah satu penyebab kemunduran dinasti Abbasiyah.
Dengan sistem yang demikian, tidak mungkin dipungkiri akan menimbulkan
kecemburuan di kalangan keluarga mereka sendiri. Apalagi dengan banyaknya
kerusuhan, baik di kalangan umat Islam sendiri ataupun serangan-serangan dari
Negara lain adalah penyebab utama kehancuran dinasti Abbasiyah.
Penutup
Alhamdullilah, makalah ini terselesaikan
dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mudah-mudahan menjadi penumbuh ide
atau isnpirasi kita bersama.
DAFTAR PUSTAKA
- Ahmed, Dr. Akbar S. Citra Muslim
Tinjauan Sejarah dan Sosiologi. Jakarta : Erlangga, 1992
- Al-Mukhdhori, Muhammad Tarikh Tasyri’
al-Islami. Tempat dan penerbit tidak disebutkan, 1981
-
Gibb, H.A.R. Islam dalam Lintasan Sedjarah. Jakarta : Yayasan Franklin,
1953
-
Hassan, Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam, Yogyakarta, Kota Kembang
- Khaeruman, Badri, Otentisitas Hadist :
Studi Kritis Atas Hadist Kontemporer. Bandung, Rosda,
2004
- Lewis, Bernard. The Crisis of
Islam : Holy War and Unholy Terror, terj. Muhammad Hariri Marzuki. Surabaya
:JawaPos Press, 2004
- Mughni, Syafiq A. DinamikaIntelektual
Islam Pada Abad Kegelapan.Surabaya : LPAM, 2002
- Sulaiman Schwartz, Stephen. Dua Wajah
Islam : Modernisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global, terj. Hodri
Ariv. Jakarta : Balantika, 2007
- Syalabi, Prof. Dr. A. Sejarah dan
Kebudayaan Islam 2. Jakarta : Pustaka al-Husna, 2003
-
Yatim, M.A, Drs. Badri. Sejarah Peradaban Islam . Jakarta : PT. Grafindo
Persada, 1998
[1] Islam pada
awalnya berkembang di tengah-tengah orang Arab dan bangsa Semit lainnya,
kemudian Islam berkembang di Iran, Kaukasus, orang kulit putih laut tengah,
Slavia, Turki dan Tartar, Tinghwa, India, Indonesia, Banu dan Negro dari Afrika
Barat. H.A.R. Gibb, Islam dalam Lintasan Sedjarah (Jakarta, Yayasan
Franklin, 1953),lm. 25
[2]Bernard Lewis, The Crisis of
Islam : Holy War and Unholy Terror, terj. Muhammad Hariri Marzuki
(Surabaya, JawaPos Press, 2004), hlm. 18
[7]Drs. Badri Khaeruman, M.Ag, Otentisitas
Hadist : Studi Kritis Atas Kajian Hadst Kontemporer (Bandung, Rosda, 2004),
hlm. 39
MAKALAH KEMAJUAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI
ABBASIYAH
0 Response to "MAKALAH KEMAJUAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH"
Posting Komentar